Wednesday, 16 May 2018

Inspiring Stories of Garage Start-Ups!


When a business starts off in a low-budget garage, it's commonly known as a 'garage start-up,' and while many of these are usually doomed to fail, there are a handful of lucky ones that go on to become multinational companies of epic proportions. These stories prove that success is less to do with the amount of money invested, and more to do with ideas, courage, and dedication.

Here are 7 hugely successful businesses that started off in a garage:

1. Amazon


Way back in 1994, Jeff Bezos founded one of the first online bookstores ever. At that time, its 'headquarters' was located in his garage, with an old door serving as his desk. As of today, Amazon is by far the planet's biggest online retailer, and Bezos even has his own aerospace, called Blue Origin, which manufactures and services spacecrafts.

2. Apple

The very first Apple computers were assembled by Steve Jobs and Steve Wozniak in Jobs' family's garage. This year, Apple is planning to finish building its new company headquarters, which will accommodate around 13,000 employees. This futuristic structure will take up a 2.8 million-square-foot area, and will be four stories high.


3. Google


The internet's most dominant search engine was originally two Stanford graduates' research project. Today, apart from doing what it does best, Google is also involved in various technological and scientific advancements, such as augmented reality, unmanned vehicles, and early disease detection.

4. Microsoft



Back in the good old days, the Microsoft team only consisted of three employees, including co-founders Paul Allen and Bill Gates. Today, Bill Gates is one of the richest men in the world, and Microsoft employs more than 120,000 people from all over the world.
Arthur Davidson and his childhood friend William S. Harley used to enjoy spending time in a wooden shack, experimenting on their bicycles together when they were children. They once succeeded in attaching a tiny engine to a regular bicycle, thus giving birth to their very first motorcycle. Little did they know that this would be the prototype for the world's most iconic bike ever!


5. Harley Davidson




Arthur Davidson and his childhood friend William S. Harley used to enjoy spending time in a wooden shack, experimenting on their bicycles together when they were children. They once succeeded in attaching a tiny engine to a regular bicycle, thus giving birth to their very first motorcycle. Little did they know that this would be the prototype for the world's most iconic bike ever!

6. Patagonia




Yvon Chouinard has been a climbing enthusiast since the age of 14. However, his family was too poor to buy the equipment he needed, so he resorted to turning his parents' garage into a blacksmithing workshop. There, he began to forge his own equipment, and 40 years on, his company, called Patagonia, still manufactures durable climbing equipment for clients from all across the globe.

7. Yankee Candle




When he was only 14 years old, Michael Kittredge used melted crayons to make a scented candle as a present for his parents. His neighbors d the smell and took an interest, and soon Kittredge was selling his candles all over the neighborhood. Today, the Yankee Candle Company sells a wide range of scented candles and souvenirs in over 50 countries around the world, and the first ever Yankee Candle Shop has now been turned into a local museum.

Sumber : Milis Bizinov2010-Community 

Monday, 3 July 2017

Penerapan SCRUM pada Selain Proyek Teknologi Informasi

Status : Draft


Agile Manifesto



Ilustasi Agile Oleh Lynne Cazaly
Berikut adalah poin-poin Agile Manifesto yang perlu kita ingat :

  1. Individuals and interactions over processes and tools
    Lebih mengutamakan anggota-anggota tim yang terlibat dan interaksi sesama anggota tim ketimbang proses dan alat-alat.
  2. Working software (Let’s replace that with “Deliverables with value”) over comprehensive documentation
    Mengutamakan software (bisa kita ganti dengan "Produk yang memiliki nilai") yang bekerja ketimbang dokumentasi yang komprehensif
  3. Customer collaboration over contract negotiation
    Mengutamakan kolabasi dengan pelanggan ketimbang negosiasi kontrak
  4. Responding to change over following a plan
    Mengutamakan merespon perubahan yang terjadi ditengah jalan ketimbang terlalu kaku mengikuti rencana yang sudah disusun diawal. 

Kanban Board

Untuk kanband board, kita dapat menggunakan Wekan, The open-source Trello-like kanban [5]
Kanban Board [4]


Referensi


  1. How do you implement SCRUM in non-IT projects?, https://www.quora.com/How-do-you-implement-SCRUM-in-non-IT-projects
  2. How non-IT or non-software teams can use Agile methodologies?, http://www.nqicorp.com/en/2016/10/27/how-non-it-or-non-software-teams-can-use-agile-methodologies/
  3. Applying Agile to Non-Software Projects, https://www.meistertask.com/blog/agile-project-management-non-software-projects/
  4. Kanban Board, https://en.wikipedia.org/wiki/Kanban_board
  5. Wekan, The open-source Trello-like kanban, https://wekan.github.io/
  6. Scrum 101: Introduction to Scrum, https://www.slideshare.net/arriellemali/scrum-101-introduction-to-scrum
  7. 4 tips: How to introduce Scrum effectively?, http://startupfreak.net/4-tips-introduce-scrum-effectively/
  8. Scrum Training Series, http://scrumtrainingseries.com/
  9. User Stories for your Product Backlog, https://www.slideshare.net/rwirdemann/user-stories-for-your-product-backlog

Tuesday, 21 March 2017

Agar Tak Menjadi Buih (Sebuah Instropeksi Diri)

Oleh : Zulkaida Akbar.
Alumni SMAN 1 Purwokerto, Eks Ketua BEM ITB yg sekarang Dosen di ITB dan Mahasiswa Doktoral di US


Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan2 di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan2 sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me"Like" berita2 republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian?Mudah diterka, karena Bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan2nya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siang nya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama2 menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia "normal" juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
..............

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :"If I can work as hard as you, I will rock the world." Si Indonesian kemudian menjawab :"If I can work as efficient as you, I will also rock the world."

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia "klaim", terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

.............

Bagaimana dengan Amerika?

Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan "Macroeconomic analysis of Pokemon Go". Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
.............

Bagaimana dengan China?

Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
.............

Mantra?

Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk "MenYahudikan Pribumi".

Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
............

Epilog? Berbagai padahal.

Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

Padahal..
Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

Padahal..
Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

Padahal..
Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

Padahal..
Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

Padahal..
Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya "illa Bi Shulthon" , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

Padahal..
Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : "Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain)." (Perintah untuk tidak menunda2).
...........

Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

Cukup menjadi Islam saja.

Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.

Zulkaida Akbar

Friday, 3 March 2017

OS OCE - One School One Centre for Entrepreneurship

Status : Draft

Terinspirasi dengan program OK OCE [1], terpintas ingin membuat "adiknya", kebetulan kita beberapa tahun sudah memulai sebuah pilot project yang kita beri nama "Bismillahi Tawakkalna 'Alallah : Merajut Kebersamaan dengan Pendidikan Berbasis Kewirausahaan Sosial" [2].

Sambil jalan, kita akan melihat, mempelajari, apa saja yang dikerjakan oleh teman-teman di OK OCE, mudah-mudahan, kelak akan ada yang bisa kita sinergikan.

Referensi


  1. OK OCE, One Kecamatan One Centre for Entrepreneurship,  http://jakartamajubersama.com/ok-oce
  2. Bismillahi Tawakkalna 'Alallah : Merajut Kebersamaan dengan Pendidikan Berbasis Kewirausahaan Sosial, http://negeripelangi.org/id/blog/2013/07/22/bismillahi-tawakkalna-alallah-merajut-kebersamaan-dengan-pendidikan-berbasis-kewirausahaan-sosial